![]() |
| Drs. Muhammad Anas |
Betapa kematian datang tanpa mengenal waktu.Baru saja beliau merayakan Adha dan menurut sumber terpercaya, masih sempat mengikuti pemotongan qurban di sekolah. Rasa-rasanya masih kemarin tangannya sempat kujabat. Bertukar sapa dan menanyakan kekinian masing-masing. Bahkan beberapa jam sebelum berita pilu itu kudengar, masih sempat kusenarai mimiknya dalam album foto SMA yang tanpa sengaja kubuka. Seketika, kenangan tentang beliau berkelebat. Baiknya, tegasnya, pun senyumnya yang khas. Masih segar di ingatan aksen Bahasa Inggrisnya yang perlahan mendayu dan beritme. Tak dapat kubendung air mata saat tanpa kusadari lisanku menirukan gayanya itu.
Tiga tahun pernah dibimbing olehnya bersisa banyak kisah memang. Pernah, sesaat setelah anak sulungnya meninggal, kutemukan ia menyeka air mata yang berusaha kuhibur dengan ungkapan, “Pak, banyak anakta’ menangis kalo kita nangis, Pak”. Dengan candaan miris, beliau tersenyum menimpali, “Iya ya, saya ditinggalkan satu tapi kan masih ada kalian yang beratus-ratus”. Dari kalimatnya, air mataku menetes perlahan, betapa beliau menempatkan kami sebagai bagian penting dalam hidupnya hingga pantas disejajarkan dengan anak kandungnya.
Cerita lain yang tak terlupa saat kami bermaksud meminjam Lab. Bahasa untuk menonton film bersama. Beberapa teman kontan pesimis mengingat alasan kami yang sangat remeh-temeh. Berbekal nekat bersama seorang teman, kami datang mengutarakan niat meski terbata. Dengan sedikit gugup dan tak percaya diri, kami berbahasa apa adanya. Sempat terpikir beliau gusar melihat reaksinya yang hening selama puluhan detik. Jeda semenit, tetiba beliau beranjak dan meraih kunci ruangan yang kami pinta. Tanpa banyak kata, beliau memindahkannya dalam penguasaan tangan kami. Dalam senyum simpul nan lirih, beliau berucap, “Life should be fun, go ahead!”. Sejurus air mukaku sumringah bercampur lega. Kami terkesiap begitu mudahnya percaya itu ada. Reaksi beliau berikut tutur bijaknya hingga kini selalu menjadi sandaranku saat sulit menyapa, bahwa apapun tantangannya, hidup mesti berlanjut dengan bahagia.
Atas nama kenangan dan doa yang melarung air mataku menuju senyummu,
Guru, ayah dan sahabat kami yang terkasih,
Thank You, Sir!
Tempat terbaikmu di sisiNya.
Kami, anak-anakmu, tak putus doa untukmu.
Dan maaf jika kami sering mengesalkan, jika semua budi tak sempat berbalas.
Semoga setiap kebaikanmu berbalik dengan sebaik-baik imbalanNya.
Tersenyumlah dengan tenang di peraduan kekalNya sebagaimana kami tersipu mengingat jasamu dalam senyum haru penuh bangga.
30 Okt ’12
10.15 am

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapustulisan yang bagus kawan...
BalasHapusmeskipun beliau tidak akan pernah membacanya, semoga doa kita untuknya tidak akan pernah terlupa, mungkin itulah satu-satunya cara kita bisa membalas kebaikannya...
sy jg ingat, beliau yg yakinkan sy pertama kali utk ikut lomba bahasa inggris. dia percaya sm saya pdhal masih kelas 1 ka..
BalasHapusalhamdulillah sempat liat wajah beliau sbelum dimakamkan.senyum ti.bersih:')
smoga Allah mengampuni dosa-dosa bapak. mengganjar dengan tempat terbaik disisi-Nya dan surga-Nya. i love you, bapak. we always do :')
tanda khusnul khatimah kalau begitu,insya ALLAH...
Hapussaya masih dirudung penyesalan mbak nin tidak bisa menghadiri pemakamannya, masih ingat chat terakhir di facebook dengan beliau, he said "I'm fine,dear".
Teman-teman yang kebetulan baca postingan ini, tolong kirim Al Fatihah buat Pak Anas. Tak ada lagi cara lain menjabat tangan beliau selain lewat doa.
BalasHapusentah kenapa ingatan semasa sma ku sedikit tersamar dengan kesibukan sekarang. tapi masih sangat jelas senyuman beliau, senyum khas itu saat menyanyikan "are you sleeping" ke winy yg kebetulan sebangku sm saya.
BalasHapussemoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya
aamiin